ABATACA

Bimbingan Minat Baca Anak

Perilaku Orang Tua Pemicu Stress pada Anak

stres1Siapa bilang hanya orang dewasa saja yang bisa stress? Anak-anak pun bisa. Berbagai kejadian burung yang pernah dialami semasa kecil ternyata akan selalu terbayang sampai dewasa. Jika seorang anak memiliki ingatan yang mendalam mengenai masa kecil ayng kurang menyenangkan, otak mereka akan merespon hal itu dan merekamnya, sehingga ketika dewasa mereka akan lebih peka terhadap stress.

Ada beberapa perilaku orang tua yang tanpa disadari ternyata bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stress. Berikut di antaranya:

1. Melarang Anak menangis

Semua orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orang tua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stress.

Anak bukanlah miniatur orang dewasa. Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama balita, belum bisa memproses kata yang terdengar dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda kemudian menangis. Jika yang terjatuh adalah anak perempuan, orang tua biasanya akan membiarkannya untuk menangis. Tetapi jika yang mengalaminya adalah anak laki-laki, orang tua biasanya akan melarangnya menangis sambil diiringi pesan “Nak kamu tidak boleh menangis, kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng!” atau “kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya.”

Sekilas, tak ada yang salah pada kalimat tersebut, karena tujuannya memotivasi anak untuk tidak cengeng. Namun ketika diserap otak anak, kalimat ini akan memiliki arti berbeda. Kalimat itu akan diterima sebagai sebuah perintah yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa. Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisannya. Hal inilah yang akan membuat anak menjadi stress.

2. Perilaku orang tua yang tidak konsisten

Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya. Melalui bahasa tubuh seseorang 90%, intonasi suara 70% dan kata-kata 3%. Orang tua yang tidak konsisten (plin-plan) akan membuat anak kebingungan dan akhirnya stress karena ulah orang tuanya tersebut. Seharusnya orang tua bersikap tegas dalam mendidik anak. Antara suami dan istri juga hendaknya bekerja sama agar tercapai kata sepakat. Misalnya anak dihukum (dengan cara yang mendidik) ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika mengulangi kesalahannya, orang tua tidak menghukumnya. Hal-hal seperti ini yang membuat anak tertekan.

3. Membeda-bedakan anak

Banyak orang tua yang secara tak sadar membedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya perbedaan sikap orang tua. Misalnya ketika adik-kakak berkelahi, biasanya nada bicara orang tua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena menganggap bahwa kakak sudah lebih dewasa sehingga harus mengalah. Intonasi suara yang berbeda saja bisa membuat si kakak merasa adiknya lebih disayang daripada dirinya. Ini juga membuat mereka tertekan.

4. Labeling pada anak

Salah satu hal yang paling berbahaya yang dilakukan orang tua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Kata-kata seperti, “dasar anak nakal! yang pinter seperti kakakmu, gitu lo”, atau “kamu itu pemalas, makanya selalu turun prestasi belajarmu” atau “kamu kok, selalu bikin masalah?”. Labeling, apalagi yang diiringi dengan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat mereka merasa tertekan, tapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga dewasa.

5. Terlalu sering melarang

Ketika anak usia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tau dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif dan daya eksplorasinya di anggap sebagai kenakalan dan orang tua lalu berusaha membatasi gerak mereka. Larangan-larangan seperti “Jangan main di sana!” atau “jangan dipegang-pegang!”, dan masih banyak lagi yang lainnya yang digunakan orang uta untuk membatasi kreatifitas anak, meski memiliki tujuan yang baik, ternyata bisa membuat anak menjadi stress karena mereka tidak bebas melakukan apapun. Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif dan anak akan mengerti bahwa kita melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, bukan karena tidak sayang pada anak. Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa menuri-curi untuk melakukannya saat kita tidak tahu.

dikutip dari: Buletin Keluarga ‘Mawaddah’

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: