ABATACA

Bimbingan Minat Baca Anak

Pengaruh Buruk TV pada Orang Tua dalam Berinteraksi dengan Anak

Oleh: Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Apa yg membuat para orangtua semakin menipis kesabarannya? Selain krn lemahnya tujuan & tidak adanya visi dalam mendidik anak, banyaknya waktu menonton TV juga sangat berpengaruh. Selama menonton TV, otak kita cenderung pasif. Ron Kauffman, pendiri situs http://t.co/7PDUOxpG, menunjukkan bahwa selama menonton TV pikiran & badan kita pasif. Tidak siap berpikir. Jika keadaan ini terus berlanjut, orangtua akan cenderung bersikap dan bertindak secara reaktif. Bukan responsif. Mereka mudah marah ketika mendapati anak melakukan apa yang dirasa mengganggu. Mereka juga mudah bertindak kasar jika anak tidak segera melakukan apa yang diinginkan orangtua. Apalagi jika sebelumnya mereka sudah memiliki kecenderungan temperamental, semakin cepatlah mereka naik darah.

Di luar itu, secara alamiah kita cenderung tidak siap melakukan pekerjaan lain secara tiba-tiba jika sedang asyik melakukan yang lain. Kalau Anda sedang asyik nonton bola (ssst… saya bukan penggemar bola), telepon dari bos Anda pun bisa terasa sangat mengganggu. Apalagi kalau gangguan itu berupa permintaan istri membersihkan kamar mandi, emosi bisa seketika mendidih. Apatah lagi jika gangguan itu datang dari rengekan anak Anda yang minta diantar pipis…!

Jk nonton TV jd bagian hidup yg habiskn waktu brjam-jam tiap hari, pola perilaku reaktif & emosional itu bisa mnjadi corak pngasuhan. Semakin tinggi tingkat keasyikan orangtua menonton TV, semakin tajam ”kepekaan” thdp perilaku anak yg ”mengganggu” & ”membangkang”. Akibatnya, semakin banyak keluh-kesah, kejengkelan dan kemarahan yang meluap kepada anak-anak tak berdosa itu. Lebih menyedihkan lagi kalau lingkaran negatif menumbuhkan keyakinan bahwa anak-anak (sekarang) memang susah diatur.

Satu lagi masalah yang sering dihadapi orangtua: merasa tidak ada waktu untuk mendampingi anak. Kesibukan selalu merupakan alasan klasik yang membenarkan hampir semua kesalahan kita. Kita tidak punya waktu untuk anak. Tetapi kita memiliki kesempatan untuk menonton TV begitu tiba di rumah karena orang sibuk memerlukan hiburan. Sebuah alasan yang sangat masuk akal ketika istri tak lagi cukup untuk menghibur hati.

Nah. Apakah tak ada jalan u/ membalik keadaan? Matikan TV & hidupkan hati Anda. Kalau Anda merasa benar-benar memerlukan TV, susun jadwalnya. Pastikan Anda menonton, misal 1 jam sehari semalam atau setengah dari itu, & tentukan Anda hanya melihat tayangan yg benar-benar brgizi.

Begitu mematikan TV & mngalihkan hiburan dlm bentuk bercanda dg anak-istri, maka Anda akan mndapatkan beberapa keuntungan. Anda mendapatkan waktu & kesempatan bercanda maupun bercakap-cakap -bukan skedar berbicara- dengan orang-orang yg Anda cintai; Anda juga menabung kesabaran; sekaligus Anda membangun kedekatan hati dengan keluarga.

Al-Qur’an membedakan berbicara dengan bercakap-cakap (ngobrol). Brbicara bersifat satu arah, sdgkan ngobrol bersifat mengalir dimana kita saling mngajukan pertanyaan, tp bukan berupa tanya-jawab. Ngobrol membuat hati dekat satu sama lain. Ngobrol juga bikin perasaan kita lbh hidup. Tentu, apa yg kita obrolkan juga brpengaruh.

Di dalam surat Ash-Shaaffaat, Allah ’Azza wa Jalla menunjukkan bahwa ngobrol merupakan salah satu kenikmatan surge.

Allah Ta’ala berfirman, ”Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil BERCAKAP-CAKAP.” (QS. Ash-Shaaffaat, 37: 48-50).

Ya, brcakap-cakap dg obrolan yg baik. Inilah kenikmatan surga yg bisa kita hadirkan di rumah kita tanpa harus mati terlebih dahulu. Pada saat ngobrol, kita bisa memberi dukungan sekaligus dorongan positif bagi anak-anak kita. Dukungan dan dorongan positif yang kita berikan di saat yang tepat, sangat berperan untuk membangun harga diri dan nilai hidup mereka.

Tetapi ini sulit sekali kita berikan kepada mereka jika kesabaran tidak ada, waktu tidak punya dan keakraban tidak terjalin. Kita berbicara kepada mereka, tapi tidak berkomunikasi. Kita mendengar suara mereka, tapi tidak mendengarkan perkataan dan isi hatinya. Sebabnya, otak kita sudah penat karena beban kerja dan tayangan TV yang menyita energi otak kita. Nah.

Omong-omong, kapan terakhir kali Anda ngobrol dengan anak Anda? Sudah lama…?

1 Comment»

  Anak Langit wrote @

setuju.. bahan refleksi juga untuk orangtua agar aktif mengajak anaknya berkomunikasi.

kunjungi web kami juga yaaa… di http://anaklangit.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: