ABATACA

Bimbingan Minat Baca Anak

Agar Anak Rajin Belajar

Jika Anda orang tua, pernahkah Anda ditanya pertanyaan seperti:

Anak Anda dapat ranking berapa?”
Anak Ibu dapat berapa nilai A semester ini?”

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenisnya. Tentu pernah kan? Mungkin kadang kita juga pernah menanyakan pertanyaan seperti itu. Apa yang bisa Anda jawab jika prestasi anak Anda kurang memuaskan? Sudah tentu kita sendiri malu untuk menjawab bukan?

Inilah situasi yang merisaukan orang tua jika anaknya kurang cemerlang dibandingkan anak tetangga atau sepupunya. Wajar saja semua orang tua khawatir tentang aspek keunggulan anak-anak. Akan tetapi, tidak wajar jika perasaan khawatir ini terus menghantui orang tua hingga anak sendiri mendapat tekanan.

Bayangkan jika orang tua memfokuskan anak untuk mendapatkan hasil yang cemerlang di sekolah dan anak gagal mendapatkannya. Bukankah ia adalah tekanan untuk kedua belah pihak, baik orang tua maupun si anak itu sendiri? Itulah yang saya maksudkan pada tekanan yang akan anak rasakan.

Mari kita lihat apakah yang dapat memotivasi anak untuk belajar agar kita tidak hanya fokus pada keunggulan akademis saja, tapi juga kecemerlangan di bidang yang lain juga.

Apa yang mendorong anak untuk belajar sesuatu?

  1. Menggunakan apa yang diajarkan dalam aktivitas seharian. Ya, anak kita suka belajar mengayuh sepeda karena bisa langsung dilakukan ketika sampai waktu bermain. Jadi, anak perlu belajar untuk pandai naik sepeda. Sama juga dengan hal lain, wujudkan satu situasi yang menarik untuk anak agar anak bisa menerapkan apa yang dipelajarinya dalam aktivitas seharian.
  2. Mengetahui masalah yang bakal dihadapi ketika tidak belajar sesuatu. Misalnya anak yang diberitahu bahwa dia dan keluarganya akan pergi melancong ke luar negeri, jadi anak harus pandai berbahasa inggris. Secara tidak langsung, anak akan berusaha untuk mempelajari bahasa inggris dengan sungguh-sungguh.
  3. Berikutnya adalah mendapatkan contoh secara ‘live’. Misalnya anak lebih gemar untuk menjadi pemain sepak bola setelah bertemu dengan Bambang Pamungkas, atau anak bercita-cita menjadi ilmuwan setelah bertemu dengan Prof. Dr. BJ Habibie. Bukankah hal seperti ini dapat memotivasi anak untuk berhasil sekaligus akan berusaha untuk mendapatkan sesuatu?

Biarkan anak tumbuh dengan penuh keyakinan untuk membuka lembaran baru dalam hidup mereka. Berhasil di waktu kecil tidak berarti akan berhasil selamanya, pun begitu gagal ketika kecil tidak berarti akan gagal selamanya. Maka, berusahalah memberi motivasi dan kata perangsang buat anak-anak agar hidupnya terus berkualitas.

Sorce: AnakkuSayang

1 Comment

  Mengalihkan Cinta Mainan Menjadi Cinta Buku | ABATACA wrote @

[…] nenekmu juga setuju bahwa mobil remot itu memang bagus dan hebat. Tapi nenek mengajari untuk ayah belajar menabung dan bekerja keras untuk mewujudkan suatu cita-cita. Tak lupa juga berdoa. jadi sejak saat […]


Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: